sumber:
Rumah Kajian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Muhammadiyah University of Yogyakarta
Tokom Muda Merupakan Harapan Aternatif Dari Calon Capres 2009
YOGYAKARTA, SENIN - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mengaku tertarik untuk menggandeng Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad sebagai pasangan dalam pencalonan sebagai presiden pada pemilihan umum atau Pemilu 2009. Sutiyoso menambahkan bahwa kemenangan dalam bursa pemilihan calon presiden tidak akan mungkin diraih tanpa menggunakan kendaraan partai politik.


Bukan ingin latah dengan kontes calon artis berbakat, yang marak digelar beberapa waktu belakangan. Ruang serba guna Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu, disulap bak "kontes ajang pemilihan calon artis berbakat".Jakarta, Koran Radar



Oleh; Lili Romli, Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI Direktur Desk Pilkada dan Pemilu Puskapol UI
Beberapa kalangan mendorong gagasan perlunya mengusung calon presiden (capres) alternatif, selain yang sudah ada.Yang dimaksud dengan capres yang ada yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri.
Kita tahu, sebagai incumbent, dapat dipastikan SBY akan maju kembali bertarung dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Sedangkan Megawati dan partainya (PDIP) jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan akan bertarung kembali melawan SBY. Selain dua kandidat tersebut, diharapkan pada Pilres 2009 nanti ada calon alternatif.
Dalam bahasa Soetrisno Bachir,jangan sampai pada Pilpres 2009 nanti terjadi 4 L (lu lagi, lu lagi), tetapi ada wajah-wajah baru yang dapat memberikan ”angin segar” bagi proses pencalonan presiden. Bahasa kerennya, perlu ada ”perubahan”. Persoalan kemudian, bagaimana peluang capres alternatif tersebut. Paling tidak ada dua tantangan utama munculnya capres alternatif.
Tantangan awal yang segera menjerat munculnya capres alternatif adalah isi Undang-Undang Pilpres yang mensyaratkan pengajuan calon dengan persyaratan yang tinggi. Dalam undang-undang yang baru saja disahkan oleh DPR itu tertulis bahwa syarat partai politik dapat mengajukan calon presiden apabila memperoleh sebanyak 20% perolehan kursi di DPR atau 25% raihan suara (secara nasional) dalam pemilu legislatif.
Adanya syarat yang tinggi dalam pengajuan capres tersebut akan berakibat paling tidak tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, proses pencalonan capres menjadi ”hak eksklusif” partai-partai besar. Dominasi partaipartai besar dalam proses pencalonan akan terjadi. Dampak dari dominasi itu, partai-partai sedang dan kecil akan ikut ”apa kata” partai-partai besar.
Kedua, di tengah-tengah persaingan ketat dengan 38 kontestan Pemilu ditambah adanya aturan parliamentary threshold (PT) 2,5%, peluang partai-partai sedang dan kecil untuk melenggang ke Senayan cukup berat. Jangankan untuk mencapai 25% suara sehingga mereka dapat mencalon presiden, untuk lolos PT 2,5% saja saya kira mereka akan ”setengah mati”menggapainya.
Dengan kondisi seperti itu, peluang partai-partai sedang dan kecil untuk mencalonkan presiden relatif kecil— untuk tidak mengatakan tertutup. Dampak pertama dan kedua tersebut akan melahirkan dampak yang ketiga, yaitu persyaratan yang tinggi akan mempersulit munculnya capres baru sebagai alternatif dari capres yang ada selama ini. Seperti dikemukakan di atas, kemungkinan pasangan capres yang ada sekitar dua pasang atau tiga pasang. Ini berbeda dengan Pilpres 2004.
Kita tahu, pada Pilres 2004 ada lima pasang capres dan wakilnya, yaitu Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Sokarnoputri-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono–M Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.
Salah satu faktor banyaknya capres tersebut karena persyaratan pengajuan calon rendah, yaitu sekurang-kurangnya 3% dari jumlah kursi DPR atau 5% dari perolehan suara sah secara nasional hasil Pemilu (legislatif) 2004 dapat mengusulkan pasangan calon presiden. Tantangan kedua,mampukah para capres alternatif mengalahkan SBY atau Megawati? Sebab, berdasarkan beberapa survei, tingkat popularitas dan electabilitydua kandidat tersebut relatif tinggi dibandingkan kandidatkandidat lain yang ingin maju.
Hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) baru-baru ini, misalnya, Yudoyono akan dipilih oleh 32% calon pemilih, disusul oleh Megawati sebesar 25%. Calon lainnya relatif kecil,Wiranto dipilih oleh 6% calon pemilih, Prabowo (5%), Sultan (3%), dan lain-lain di bawah 3%.
Survei yang dilakukan IRDI juga menempatkan SBY dipilih oleh 33% dan Megawati 17,9,sedangkanWiranto 5%,Prabowo 4,7% dan yang lainnya di bawah 3%. Bila mengacu pada hasil survei tersebut, dapat dikatakan bahwa peluang capres alternatif vis a visSBY dan Megawati,relatif kecil dan cukup berat untuk dapat keluar sebagai pemenang. Dengan kondisi seperti itu, masih adakah peluang capres alternatif untuk menang?
*** Dalam demokrasi dengan pemilihan langsung tidak ada yang tidak mungkin, semuanya serbamungkin. Perlu diketahui bahwa hasil survei bukanlah untuk memprediksi, apalagi menentukan, tentang siapa yang akan menjadi pemenang dalam pemilihan.
Hasil survei merupakan gambaran tentang perilaku pemilih, utamanya preferensi pemilih terhadap kandidat. Dalam pemilihan langsung, perlu diketahui bahwa selain ada yang jauhjauh hari sudah menentukan pilihan, juga ada pemilih yang menentukan pilihan pada detik-detik terakhir (undecided voters). Pemilih jenis terakhir ini kerap akan berperan menentukan kemenangan kandidat.
Di antara faktor yang menentukan bagi jenis pemilih ini adalah apa yang dinamakan Efek Bandwagon. Dengan efek ini maka pemilih yang ragu pada menit-menit terakhir akan memilih kandidat yang diprediksi akan menang. Apabila calon-calon alternatif lebih bisa diterima oleh pemilih dan menjanjikan serta akan membawa perubahan dibanding kondisi sekarang seperti kondisi kemiskinan, pengangguran,tingginya harga-harga kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, dan pemberantasan korupsi, maka bisa jadi capres alternatif tersebut akan menjadi kuda hitam.
Seperti dikemukakan di atas, dalam pemilihan langsung tidak ada yang pasti, tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya masih bisa berubah dan penuh kejutan. Kini kita tinggal menunggu, apakah partai-partai politik nanti mengajukan kandidat figur alternatif atau stok lama dalam kemasan baru? Wallahu’alam.“Sebenarnya kami undang sekitar 11 hingga 12 orang seperti Wiranto, Fadjroel Rahman, dan Ryamizard Ryacudu,” kata Ketua DIB Salahuddin Wahid (Gus Sholah), di Jakarta, Kamis.
Diantara enam tokoh yang sudah menyatakan kesediaannya untuk mengikuti konvensi calon presiden alternatif itu, Fadel Muhammad adalah satu-satunya yang belum mendeklarasikan diri sebagai capres.
Mengenai kemungkinan jika ada capres lain yang ingin mengikuti konvensi akan diterima, Gus Sholah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur itu, mengatakan, hal itu akan dibicarakan lagi dengan anggota DIB yang lainnya.
Gus Sholah, mengatakan, jika memang waktu calon tidak memungkinkan maka dia bisa hanya mengikuti beberapa konvensi saja. Namun, katanya, itu akan merugikan dirinya sendiri karena tidak bisa menyampaikan visinya.
Menjawab pertanyaan mengapa Susilo Bambang Yudhoyono tidak diundang dalam konvensi, Gus Sholah mengatakan bahwa konvensi tersebut hanya disediakan untuk calon alternatif.
Menurut rencana konvensi akan diadakan pada 19 Januari hingga 7 Maret 2009 di Yogyakarta, Padang, Surabaya, Denpasar, Medan, Banjarmasin, Makassar, Gorontalo, Ambon, Jayapura, Bandung dan Jakarta. Sebelumnya nama Gorontalo tidak masuk dalam daftar namun setelah Fadel mempertanyakan hal tersebut nama kota tersebut akhirnya dimasukkan.
Ditanya mengenai Fadel Muhammad yang menyatakan belum mendeklarasikan diri namun menyatakan ikut konvensi, Gus Sholah mengatakan, dengan menyatakan diri sebagai peserta maka dia akan menjadi capres.
Sementara itu mengenai partai-partai yang mendukung konvensi itu, Gus Sholah mengatakan, antara lain Partai Buruh, Partai Nasional Benteng Kerakyatan (PNBK), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI).
Dengan konvensi tersebut diharapkan pemilih telah menyerap sejauh mungkin hasil konvensi sebelum memberikan suara.
Dalam DIB ada Tim 45 yang tugasnya antara lain memverifikasi/menyeleksi capres dan cawapres melalui mekanisme konvensi, serta menyusun menteri kabinet bahkan sampai caleg, DPR/DPRD bagi parpol yang menjadi mitra DIB.
Sebelumnya, Sultan menyatakan agak sulit mengikuti konvensi karena waktunya yang ketat yakni 20 Desember 2008 hingga 31 Januari 2009 karena ia sudah mempunyai jadwal untuk bertemu dengan rakyat hingga 15 Januari 2009. Namun kemudian waktunya diubah menjadi 19 Januari hingga 7 Maret 2009, dan minta oleh Wakil Ketua DIB Nathan Setiabudi, Sultan akhirnya bersedia.
Sementara itu mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki menyatakan tidak bersedia menjadi capres karena tugasnya sangat berat.
Lain halnya dengan Ketua Lembaga Kajian Sosial, Politik dan Ketahanan Nasional Bambang Sulistomo, yang juga anak pahlawan Bung Tomo. Ia menyatakan mundur sebagai anggota DIB dan menyatakan menjadi capres serta akan mengikuti konvensi tersebut.
Sementara Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad menyatakan bahwa ia belum pernah mendeklarasikan menjadi capres namun ia akan mengikuti konvensi tersebut.
Ia akan memanfaatkan konvensi tersebut untuk mengenalkan bukunya yang baru, serta menyampaikan sumbangan pikiran mengenai model pemerintahan daerah yang termuat dalam buku tersebut. Ia juga ikut konvensi agar ada dinamika politik serta ingin agar golput berkurang.
Sementara itu Yuddi Chrisnandi, Rizal Ramli dan Marwah Daud Ibrahim langsung menyatakan kesediaannya.
DIB dideklarasikan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pemuda Muhamaddiyah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Pusat Pemuda Katolik, Generasi Muda Buddhis Indonesia, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Generasi Muda Khonghucu, dan Komunitas Anti Korupsi.
sumber:http://www.antarasumut.com/nasional/politik-nasional/enam-tokoh-ikut-konvensi-capres-alternatif/
"PKB membuka ruang yang luas untuk calon alternatif selain Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati," kata Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar di sela-sela Simposium Nasional dan Mukernas PKB di Jakarta, Selasa (11/11).
Menurut Muhaimin, jika berhasil meraih suara minimal 20% dari total suara nasional pada Pemilu 2009, maka PKB akan menjadi motor untuk memunculkan Capres alternatif.
Namun, PKB juga bersikap realistis dengan siap berkolaborasi bersama partai-partai lain jika perolehan suaranya tidak memungkinkan untuk mengusung calon sendiri.
Hanya saja, kata Muhaimin, jika yang terjadi adalah koalisi, maka soal Capres yang akan diusung tentunya tergantung juga pada partai lain yang menjadi anggota koalisi.
Terkait kemungkinan koalisi, Muhaimin mengatakan, pihaknya saat ini berupaya mengintensifkan komunikasi dengan Parpol lain. Pada pekan terakhir November tahun ini, pihaknya akan bertemu dengan sejumlah ketua umum Parpol.
"Kita sudah membuat agenda pertemuan dengan Partai Demokrat, PKS, PAN, dan PDI Perjuangan," kata Muhaimin yang didampingi Sekjen PKB Lukman Edy.
Dalam pertemuan itu, kata Muhaimin, PKB tetap akan menawarkan kemungkinan pengajuan Capres alternatif.
"Apakah (Capres alternatif) ini akan muncul atau tidak, tergantung pada Parpol yang lain," katanya.
sumber:http://www.kapanlagi.com/h/0000260885.html
25 Maret 2008
Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubowono dijagokan sebagai calon presiden alternatif pada pemilu presiden 2009, dalam survey yang diadakan Lembaga Survey Nasional (LSN).
Dalam polling yang dilakukan sejak Januari-Februari 2008 pada 33 provinsi menyebutkan 14,7% menjagokan Sri Sultan sebagai Capres.
“Publik tidak lagi menaruh harapan kepada SBY-JK dan tokoh-tokoh senior lain,” kata Direktur LSN, Umar S Bakry dalam jumpa persnya di Hotel Sofyan Cikini, Selasa (25/3/2008).
Umar mengungkapkan, kinerja SBY-JK dalam berbagai bidang mendapatkan raport merah semua. “Keinginan masyarakat mengkerucut pada 6 kriteria capres alternatif,” jelasnya.
Pertama figur yang tegas, kedua populis atau dekat dengan rakyat, ketiga, sederajat atau lulusan S1, keempat figur dari kalangan militer-sipil, kelima umur 40-50 tahun, dan keenam presiden harus orang jawa, capresnya luar Jawa.
Selain Sri Sultan, tokoh capres alternatif lainnya adalah: Prabowo Subianto 7,7%, Sutiyoso 5,4%, Hidayat NH 4,2%, Akbar Tandjung 3,8%, Yusril 2,5%, Surya Paloh 2,3%, Din Syamsudin 1,1%, Fadel Muhammad 1,0%, Sutrisno Bachir 0,4%, Ryamizard 0,4%, sisanya 51,6% adalah swing voters.